Keruh vs Bening

Rasanya baru tadi pagi saya ke Pelabuhan Paotere menikmati angin pagi yang menusuk ulu hati dan suara ombak yang mengalukan suara khasnya. Beberapa bapak-bapak, ibu-ibu dan anak-anak berenang dengan riangnya sambil bernyanyi dan minum air.melihat anak-anak berenang di sini membuat bahagia, bagaimana tidak di sini mereka boleh memakai pakaian apa saja dan laut seolah milik bersama.

Pelabuhan Paotere akhirnya di reklamasi, tanggul di perlebar. Tanggul ini berada di di sebelah kanan kalau kita memasuki pelabuhan paotere. Sekitar 300 meter untuk sampai ke tanggul tersebut. Terbuat dari batu kali yang di susun dengan rapi hingga berbentuk trapesium memanjang keluar arah laut lepas dengan pajang sekitar 500 meter, dan lebar jalur pejalankinya 2 meter, airnya jernih hingga terlihat ikan-ikan kecil menari di dalamnya, dulu. Tapi, sekarang airnya keruh.

Anak akhirnya memilih berenang di kanal yang berbatasan dengan laut lepas.

Kanal ini berada sekitar 400 meter dari arah pintu masuk. Kanal ini di sebelah kanan kalau kita keluar melalui pintu masuk. kanal ini jalur air buatan yang dibangun untuk memungkinkan lewatnya kapal atau untuk saluran air. Jalur airnya berakhir di sini, jalan Sabutung atau subut saja Paotere. Berbentuk trapesium terbalik dengan lebar atas sekitar 15 meter dan di bawahnya 10 meter dan dalamnya 8 meter, panjangnya sangat panjang karena menghubungkan jalur buangan air di kota Makassar sampai Gowa.

Ketika surut, dalamnya sekitar 1 meter. Airnya bisa berwarna hitam pekat dan di sore hari saat pasang, tinggi pasangnya dari permukaan tanah bisa sampai 4 meter. Airnya berwarna hijau atau biru, sampai bisa terlihat tanah di bawah berwarna hitam. Ikan-ikan kecil juga turut menghibur kami di kanal ini. Di sinilah kaming suka berenang ketika pelabuhan di reklamasi. Sebenranya sebelum reklamsipun di juga jadi tempat idola para anak pesisir juga berenag juga. Kurang lebih ada 30-40 anak yang berenang, termasuk saya. Tapi di sore hari, ketika airnya jernih.

Mulai dari anak-anak SD, SMA bahkan ada pula kadang bapak-bapak, mungkin karana bapaknya ini mau di bilang muda. Ada yang sekadar berendam, bermain, dan ada yang pula yang belajar berenang di sana. Di sini ketika seorang anak mau belajar berenang, anak tersebut langsung saja di dorong ke dalam kanal, sampai hampir tenggelam, baru kami menolongnya. Kata teman-teman biar anaknya tahu bagaimana itu panik dan ini mengajarkan mentalnnya di laut nanti. Buktinya saya, sekarang kalau liat air di kolom rasanya ingin melompati kenagan itu.

Antusianya anak-anak sangat bergembira bagai seorang anak yang terpisah dengan kedua orang tuanya. Hiburan di kanal tidak kalah dengan hiburan di Bugis Water Park. Di kanal paotere ada jembatan yang terbuhung langsung dengan lalu-lalang kendaraan. Ada jembatan di atas kanal. Salto belakang adalah gaya favorit mereka yang suka melompat dari atas jembatan

Sebenranya kalau kita cermati kanal ini, ada beberapa saluran kotoran manusia yang langsung terbuang ke kanal. tapi keyakinan itu berubah ketika seseorang berkatan kalau ini air laut dari depan (laut lepas) jadi tidak ada kotoran. Menepuk dada adalah pertanda rasa aman

Sekarang pelabuhan sudah di tinggal oleh banyak anak-anak akibat reklamasi tersebut. Tanggulnya semakin karam. Tidak ada lagi ikan-ikan menari dikarekan meraka lelah. Kanalpun begitu, karena jaman semakin moderen di era informatika ini.

#15HariMenulis

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s