Hujan dan Ketakutan

Seketika saya jadi bingung, terdiam linglung dan hilang arah bagai tukang becak ketiduran di atas becaknya karena, meningkatnya moda transpotrasi di kota.

Di pagi yang sedikit sendu, dinginnya pagi seolah bagai candu untuk tetap berada dalam selimut. Segera mungkin saya terbangun untuk tetap beraktivitas pagi ini. Dalam perjalanan ke kantor pikiranku dirasuki Ketakutan Terbesarku, apa yang akan ku tuliskan tentang ketakutan di sepanjang jalan kota yang mulai padat tidak pula memberi sebuah kata yang padat untuk satu buah paragraf. Pohon-pohon juga ikut membisu memberi satu-dua buah kata. Kehilangan kata-kata di kelapa bagai musim paceklik. Sendu pagi itu berubah berawan gelap lalu hujan.

Menepi dari derasnya hujan di sebuah ruko yang tidak buka pagi itu, pintu besi berawarna kuning dengan berwarna kuning, temboknya berwarna putih sedikit basah karena hujan. Kakiku basah juga, ruko itu tidak memiliki kanopi yang panjang untuk di buat berteduh.

Seorang tukang becak yang rentah memberhentikan becaknya lalu menepi menemaniku. Dengan baju yang mulai kumal berwarna biru berlengan panjang, seperti baju olahraga. Daging betisnya yang keriput dengan urat yang tegang seperti dari perjalan jauh. Sorot matanya semakin sendu di temani keriput dahinya, daging pipi keriput bagai tak berisi lagi. Berdiri berdua di sana saya tidak membuat saya ingin bertanya-tanya atau sekedar ngobrol, saya memperhatikannya saksama. Terlihat bapaknya tidak ingin diganggu dengan memilih agak jauh dari saya, mungkin sekitar 7 meter di arah kananku mengharap ke jalan, menatap pemohonan yang masih bisa.

Melihat bapak tukang becak membuatku bertanya-tanya dalam diri saya sendiri, “apakah dia sudah makan? Bagaimana kesehatannya? Anak istrinya di mana? Berapa penghasilannya kemarin?” gumamku dalam hati. Melihatnya bagai sebuah ketakutan. Takuk orang-orang terdekat saya, atau di keluarga saya menjadi dirinya. Takut saat bapaknya kecewa hidup di dunia ini. Takut jikalau kelak saya seperti itu. Rasanya miris sekaligus sedih, apakah ini takdir atau memang bukan jalannya.

Hujan mulai reda, bapak tukang becaknya pergi meninggalkan bersama genangan yang mengalir di dalam kepalaku. Keruh airnya tidak bisa saya hilangkan. Ikan-ikan di dalamnya beranak-pinak.

Ketakutan saya adalah selalau berfikir pendak dalam hal takdir, berandai-andai sesuatu yang buruk akan terjadi. Seolah saya benar tidak yakin dengan ketatapanNYA, ketakutan yang seolah memburu. Sebuah sugesti yang negatif . segara mungkin harus saya hilangkan dalam benak hati. Penyakit hati. Mungkin juga fikiran menjadi berperan secara langsung saya kira. Bila penyakit ini tidak hilang mungkin akan saya akan membawahnya sampai kapanpun. Berfikir positif kepada sang pencipta denga istiqomah di jalannya.

Astagafirullah…. Kalimat istigfar yang selalu ucapkan ketika su’udzon kepadaNYA, saya merasa sedih seketika. Sang pencipta selalu mencitai hambanya, kenapa saya ragu? Allah SWT menyayangi hambanya.

Dalam perjalanan saya masih melihat masih banyak orang-orang yang kurang beruntung di dunia ini. Pikiran tentang ingin mengubahnya sangat ingin saya lakukan, entah bagaimana caranya. Pikiranku bagai seorang Tony Stark sang Milliarder dan tokoh Ironman, di ceritakan di sebagai pahlawan di kotanya. Membasmi jahatan dan menolong banyak orang dengan kekayaannya. Saya akan menjadi seperti dia.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11

#15HariMenulis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s