BUNGA UNTUK RELAWAN ( TENTANG LemINA)

Siang itu suara elettong’ tetangga dan raung knalpot bising dari arah belakang beradu panggung di telingaku. Duduk di sofa yang nyaman dengan motif kembang berwarna merah marun.

Tidak seperti biasanya di hari libur saya menghabiskan waktu berkutat di depan laptop, menunggu Andi Bunga Tongeng biasa di panggil Bunda atau sapaan teman relawan Bunga “bukan nama samaran”. Beliau salah satu pendiri dari LemINA (Lembaga Mitra Ibu dan Anak) yayasan yang bergerak di bidang pemberdayaan ibu dan anak-anak ini telah berdiri sejak 2009.

Ingatanku seketika memampang saat pertama kali bergabung di kegiatan LemINA, Seragam Untuk Sobat nama kegiatannya. Itu di penghujung tahun 2014 di sebuah pulau kecil di Kabupaten Pangkep, Pulau Sarappo. Seragam untuk sobat adalah kegiatan berdonasi langsung atau terjung ke lapangan membangikan pakai seragam sekolah. Ini berdasarkan hasil observasi teman-teman relawan di beberapa sekolah yang menurut mereka sekolah mana yang pantas untuk mendapat donasi tersebut. Kurang lebih 150 seragam sekolah. Saat itu saya dari komunitas KLJI (Komunitas Lubang Jarum Indonesia) hanya sekedar mebawa materi Kamera Lubang Jarum, tidak lebih. Angan-angan tentang apa itu relawan, nol besar di kepalaku.

Sunyi senyap menyergap, suara elettong diam seketika, mungkin istirahat. Terdengar suara lantang nan ceking dari arah tetangga, itu kak Bunga, saya bergumam. Semalam, sebelum mataku sembab karena ingin segera bermimpi. Saya sempat memberi kabar bahwa saya ingin wawancara dengan beliau. Ia hanya mengiyakan permintaanku itu.

Beliau memakai gaun berwarna ungu terong, jilbab ungu lavender dan sepatu ungu gelap, tidak lupa tasnyapun berwarna dengan gradasi warna ungu. Tinggi kurang le bih 170cm, bertubuh tegap dan agak jangkung. Ibu dua anak ini langsung saja saya mempersilahkan duduk di sofa mermotif kembang juga di depanku. Beliau ini seorang sosok inpiratif dan berbagai coletahan bermanfaatnya.

“Menurutku Bunda itu overall baik dan memiliki kepribadian mengayomi. Punya banyak mimpi dan cita-cita untuk memperbaiki generasi. Beliau orang yang ingin melihat orang lain baik meski kerap caranya kurang tepat jadi kadang tidak diterima baik sama orang. Paling saya suka, Bunda suka mentraktir hahaha” ungkap Kak Dede melalu pesan Whatsapp, seorang anak relawan juga. Berbeda dengan Amirah, relawan lemina yang setahun kemarin bergabung, mengatakan “Bundo itu blak2an, cuek, santai, heboh, emak-emak rempong, dann apalagi yah….” jawabnya melalui pesan singkat. sungguh, menggantung gumamku.

Tidak tunggu lama langsung saja saya serang dengan pertanyaan. “Cobaki’ cerita sedikit tentang LemINA?” Tanyaku, menunggu dengan serius.

Tentang LemINA

“Kebetulan saya dan beberapa teman, kita bekerja di pemberdayaan. Selama bekerja di pemberdayaan yang banyak adalah kita memicu teman-teman pemerintah dan masyarakat sendiri. Untuk pemerintah bagaimana dengan kewenangan mereka bisa membantu masyarakat di bawah dan untuk masyakat itu sendiri bagaiman bisa memberdayakan dirinya sendiri. Kemudian dari sanalah mulai berdiskusi bersama beberapa teman” dengan semakin serius, kak melanjutkan ceritanya

“Kenapa kita hanya mendampingi pemerintah dan masyarakat untuk bisa berswadaya, memberdayakan dirinya. Terus kita sendiri sebagai fasilitator yang bekerja di pemberdayaan kita bisa sumbang apa, tanpa harus kita di gaji…

“Kemudian langsung tiba-tiba berfikir, ayok coba kita bergerak, melalui kegiatan. Waktu itu sudah mulai berkegiatan bersama anak-anak tetapi belum ada nama khusus. Kemudian dana yang kita gunakan waktu itu peringatan hari anak nasional, itu kita hanya bermain sama anak, karna pada dasarnya anak-anak dunianya bermain, di ajak kegiatan edukasi, khusus bermasin saja. Permainan di sisipkan muatan pendidikan di dalamnya dananya itu dari donasi teman-teman”

Tanpa berfikir lama kembali, Kak Bunga menimpali.

“Kemudian setiap bulan kita mulai menghimpung donasi dari teman-teman yang awal yang mendirikan lembaga ini berdiri, kemudian kepikiran bahwa kalau ada sejumlah dana hanya di pegang satu orang walaupun kita saling percaya tetapi ada kekhawatiran, Pertama ada saling curiga nantinya kalau dananya sudah banyak, kemudian akuntabilitas  juga masih perlu di pertanyakan sebenarnya dari pada saling mencurigakan, jadi kita memutuskan membuat rekening. Bukan rekening pribadi tapi, rekening yang mewakilkan kelompok kita. Namanya masih kelompok karna hanya 5-6 orang (Bunga. Mukri. Titin, Rara dan Evi). Setelah sampai di bank ternyata tidak bisa membuat seperti itu tanpa…. Tutur kata Kak Bunga yidak hentinya, sayapun hanya bisa mengangguk-angguk.

“Makanya kak mukri karna dia yang tertua dan paling bijak di antara semuanya jadi dia yanga banyak di dengar, Cuma kak mukri tidak di makassar, jadi di buat pemilihan, pemilihan Cuma sekedar membuat akte, pendiriannya saja. Untuk buka rekening kita di wajidkan punya nama, npwp, akte pendirian akhirnya kita buat lembaga, awalnya rekening hanya kepentingan” Kak Bunga Menghela nafas dalam-dalam.

Kenapa Namanya LemINA

Makanan di mejapun menjadi pendengar. Saya dengan serius tak ingin memotong mood yang telah telahir. Saya lanjutkan dengan pertanyaan selanjutnya, “Kenapa namanya LemINA?”

Tanpa pikir panjang pun kak bunga melanjutka di timpali posisi duduk yang berubah “Namanya tidak di fikirkan, tapi di pilih awal kita sudah ada notaris, kefikiran kita pakai nama apa ya? Karna awalnya kita bergerak, tidak langsung memikirkan nama cuma bergerak saja dulu. Begitu harus buat akte pendirian  kita jadi bingung pakai nama apa? Cuma beberapa menit kita putuskan pakai nama Lemina saja karna kita bergerak untuk anak-anak. Awalnya hanya mau menggukan nama anak tidak melibatkan ibu, tapi kemudian kita berfikir tidak mungkin peningkatan kualitas hidup anak itu bisa di tingkatkan kalau ibunya tidak, tidak bagus juga kualitas hidupnya. Makanya kini Lembaga Mitra Ibu dan Anak”

Sejenak saya benar-benar terkagum dengan LemINA sampai saat ini.

Muncul Komunitas Sobat LemINA

“Kenapa di sebut Sobat Lemina karna kita sobatnya anak-anak, kemudian karna namanya mitra ibu dan anak, kita mitranya ibu sebenarnya untuk peningkatan kualitas ibu dan anak. Sobat lemina aktif 2011, 2010 masih bergerak di bawah payung LemINA saja. Nanti setelah 2011 kita kepikiran kenapa kita tidak memanggil orang-orang untuk menjadi relawan untuk anak-anak, mengajak orang-orang menjadi rwalan anak 2011-2012 hanya sebatas berbagi seragam. Tahun 2014 semakin banyak relawan, akhirnya kepeikiran bikin program yang melakukang edukasi langsung, bukan kesedar menyiapkan seragam. Relwan yang ikut datang da pergi karna berbagai kegiatan dan kerjaan”

Donasipun dari mana saja, termasuk ini:

Orang dari jawa kirim 50 pch ransel, dan saya tidak kenal orangnya, hanya berteman facebook dan sampai sekrang tidak pernah tahu orangnya, dari jawa timur. Ternyata dia istri dari direktur PLN, tapi jaunya niatnya sampai ke sini.

Relawan LemINA untuk anak-anak

“Sebenarnya begini, apa sudah di kerjakan pemerintah itu tetap menjadi porsinya pemerintah, nah ada bagian-bagian yang tidak di kerjakan pemerintah itu porsinya masyarakat umum. Relwan menjadi masyarakat umum jadi dia bukan sebagai pelaku khusus atau spesial tapi sebenarnya relwan itu bagian dari masyarakat, nah kemudian porsinya teman-teman swasta beda lagi porsinya lembaga Donor beda lagi, jadi kita mengambil porsi masing-masing. Relwan menjadi bagian masyarakat dia melihat yang mana yang bekum di sentuh oleh pemerintah, swasta atau Donor itu yang kemudian di sentuh oleh teman-teman relawan. Jadi, kegitan tidak harus sebesar pemerintah karna, otomatis gerakan masyarakat…. “kalau melakukan kegiatan pasti berkaitan dana, tentu saja kita tak punya seperti pihak swasta dan pemerintah bergerak. Kita melihat kemampuan kita sampai di mana bisa membatu sampai di mana juga dan anak-anak mana juga yang akan di bantu”

Seberapa Penting Relawan

Sebenarnya ada banyak masalah yang ada di sekitar anak kita tahu baik dari segi pendidikan maupun kesehatan nah sekarang begitu banyak anak masalah tidak semua anak bisa di bantu secara langsung oleh pemerintah.

Tidak cukup sumber daya manusia/ jumlahnya (bukan kualitasnya) di pemerintah untuk membantu anak-anak.

Ada banyak komunitas, lembaga yang bergerak untuk anak-anak tapi itupun belum cukup, ada hal-hal tidak bisa secara regtotal di penuhi teman-teman yang sudah bergerak di awal untuk anak-anak, sekarang. Karna itu sebenarnya butuh relawan-relawan yang bekerja untuk anak tidak harus bekerja satu hal saja tetapi, setiap relawan mengambil porsinya masing-masing sesuai kemapuannya, kenapa relawan penting karna kita bergerak bersama-sama untuk bisa menyiapkan anak-anak indonesia untuk 30-40 tahun yang akan datang.

Pesan untuk kami Relawan Anak

Sebagian orang memiliki persepsi ketika kita berkomunitas sosial berarti kita sudah relawan, mungkin karna itu ada segelintir orang yang sulit membedakan kapan dia, sebenarnya relawan atau anggota komunitas, nah bedanya lebih keapda mengasah kepekaan dirinya yang menyebut dirinya relawan. Dia seorang relawan anak, suka berkegiatan dengan anak, hobinya berkegiatan dengan anak suka menjadi relawan dan lebih peka terhadap semua persoalan persolan anak, seperti itu sebenarnya. Akan berbeda jika dia anggota komunitas, biasa dia berfikir sama dengan komunitas hobi dll kalau dia begabung di komunitas dia hanya anggota komunitas berebda dengan relawan yang mengharuskan dia benar-benar menjadi relawan.

Kenapa kita di sebut  komunitas relawan karna isinya dalah orang-orang yang suka menjadi relawan, ketika dia masuk dan tidak cukup peka menjadi relawan sebenarnya dia mungkin anggota komunitas tapi yang menjadi masalah kan anggota komunitas itu masih relawan, sama dengan hobi motor, tapi tidak punya motor. Atau dia punya motor tapi yidak bisa menguasai motornya.

Relawan karna dia peka.

Apapun yang di lakukan ikhlas, berfikir bahwa hobi kita sama yaitu bekerja secara sukarela untuk anak-anak. Anak-anak ini nanti kelak merakalah yang membangun wajah indonesia, untuk indonesia dan yang mebnetuk meraka sejak sekarang itu adalah kita. Kita sebenarnya bukan mau menggatikan orang tua atau guru tetapi pelengkp bagi anak bukan pengganti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s